MELIHAT LANGIT

23/2/2009
Saat pulang dari Gereja hari minggu kemaren, ada keheningan saat saya dan anak-anak kembali ke rumah. Sepertinya aktivitas di gereja hari itu cukup padat untuk anak-anak, selesai ibadah mereka masih latihan paduan suara. Tapi tiba-tiba di sela keheningan, anak sulung saya berujar "Pa, lihat tuh di langit, bentuk awan nya lucu, kayak kelici...." belum lagi saya mendongak keatas, dia sudah menujuk lagi "Itu juga tuh... kok seperti banteng ya ....". Demi keamanan saya lalu meminggirkan mobil agar bisa menikmati apa yang jadi keterkejutan anak saya itu.
Ternyata benar, langit yang biru kadang menghadirkan pemandangan tersendiri yang memukau, seberapa sering kita menyadarinya ? apa yang kita lihat sehari-hari lebih banyak dalam perspektif horisontal, sangat jarang kita melihat vertikal. Melihat keatas memang butuh pengorbanan, selain harus siap silau matahari juga harus siap pegal di leher. Di mata anak-anak langit adalah awan yang bisa diimajinasikan dalam berbagai bentuk yang "lucu-lucu". Bagi saya, langit yang saya lihat menjadi bagian yang kompleks dalam relung pemikiran yang dalam. Saya membayangkan diri saya sedang dipancing untuk melakukan 2 hal.
Pertama, lihatlah atau lakukan dengan cara yang berbeda, jangan itu - itu saja. Jangan lihat kedepan terus, nanti bisa bosan, sesekali lihat keatas. Setelah melihat awan yang "lucu-lucu" ini, malamnya disuguhi tontonan film dari HBO yang juga aneh. Ada sekelompok astronout yang mendarat di MARS, mereka kehabisan oksigen. Dalam alam pemikiran mereka (dan juga penonton), di MARS tidak ada oksigen, maka pada saat titik akhir oksigen habis, mereka masih menggunakan masker oksigenya. Tapi ada seorang astronout yang berpikir beda, dia membuka maskernya, dan apa yang terjadi ? dia bisa bernafas..... ini aneh, tapi pelajaran bagus, bahwa alam pikiran kita yang seringkali membantasi kita melakukan sesuatu tanpa dicoba lebih dulu. Saat kepepet, peluangnya memang fifthy-fifthy, tapi lebih baik dicoba, daripada tidak sama sekali.
Kedua, melihat keatas adalah melihat masa depan, melihat harapan, dan meilhat tantangan. Dengan meluangkan waktu sejenak melihat keaatas, maka kita dapat melihat betapa "lucu" nya masa depan kita, atau betapa "menyeramkanya" masa depan kita. Bagi anak-anak, masa depan mamang selalu lucu, tapi coba kita lihat dengan mata kita, pasti beda, kita melihat awan-awan kadang seperti monster atau sebentuk mahkluk yang menyeramkan yang akan menerkam kita. Apa benar demikian ? semoga tidak !
Secangkir kopi kusruput sendiri...... sruputz..... mak Nyossssssssssss...................................
LAKONE